
SECARA geografis, Tapanuli selatan merupakan bagian
dari provinsi Sumatera Utara.
Letak yang berbatasan dengan Sumatera
Barat menjadikan Tapanuli Selatan
sedikit berbeda dengan wilayah lain di
Sumatera Utara. Jika sebagian besar
masyarakat Sumatera Utara beragama
Nasrani, lain halnya dengan masyarakat
Tapanuli Selatan yang sebagian
besar beragama Islam. Sehingga, tata cara adat budaya
mereka banyak
dipengaruhi kebudayaan dan nilai-nilai Islam.
Masyarakat Tapanuli Selatan menerapkan nilai-nilai Islam dalam
setiap perilaku
kehidupan, termasuk prosesi pernikahan yang diusung
dalam rangkaian upacara
adat yang meriah. Perlengkapan pesta pernikahan
hingga tata cara dalam
setiap prosesi yang berlaku mencerminkan bahwa
masyarakat Tapanuli
Selatan amat menjunjung tinggi kaidah dan nilai yang
terkandung dalam ajaran agama Islam.
Mangaririt Boru Dan Manulak Sere
Melihat
dan memilih pasangan hidup adalah hak setiap manusia.
Apapun cara dan
langkah yang ditempuh guna mendapatkan jodoh sesuai pilihan hati.
Setiap
daerah dan suku bangsa mempunyai cara sendiri dalam mencari
belahan
jiwanya. Mangaririt Boru merupakan cara masyarakat
Tapanuli Selatan
dalam menyelidiki anak perawan guna dijadikan pasangan hidup.
Cara
ini penting supaya di kemudian hari tidak ada kekeliruan terhadap
gadis
yang akan dipinang. Jika si gadis belum ada yang melamar,
selanjutnya
diadakan musyawarah bersama keluarga mengenai waktu
yang tepat untuk
malamar. Dalam rapat keluarga ditentukan pula jumlah
mas kawin yang akan
dibawa, serta barang hantaran apa saja yang akan
diserahkan saat
lamaran.
Menurut adat, mas kawin yang wajib tersedia adalah emas
meskipun jumlahnya tidak seberapa.
Hal ini sesuai dengan anjuran dalam
agama Islam bahwa perempuan yang
akan dinikahi wajib diberikan mas kawin
berupa pemberian yang manis.
Artinya, memberikan barang yang dapat
dinikmati si mempelai perempuan.
Mangalehen Mangan

Masyarakat
Tapanuli mengenal acara suapan yang dilakukan orangtua
kepada putrinya
yang akan melepas lajang. Namun acara ini tertutup bagi mempelai
laki-laki alias hanya dilakukan keluarga perempuan. Acara Mangalehen
Mangan
dilakukan dengan cara memberikan makan (menyuapi) calon mempelai
perempuan
sebagai simbol pengasuhan terakhir orangtua kepada putrinya.
Mangalap Boru
Acara
ini dimaksudkan untuk menyunting mempelai perempuan sekaligus
pelaksanaan ijab kabul. Mangalap Boru diawali dengan kedatangan
rombongan
calon pengantin laki-laki sebanyak 10-15 orang ke rumah
keluarga perempuan,
dipimpin seorang ketua adat. Rombongan datang
membawa barang
hantaran berikut mas kawin.
Sampai di pintu
gerbang rumah mempelai perempuan, rombongan mempelai
laki-laki
mengucapkan salam, dilanjutkan dialog singkat mengenai maksud
dan
kedatangan mereka. Jika calon pengantin laki-laki diterima dan
dipersilahkan masuk, acara dilanjutkan dengan ijab kabul sehingga kedua
mempelai sah menjadi suami istri.
Saat akad nikah berlangsung,
pasangan pengantin biasanya belum memakai pakaian adat.
Usai akad,
barulah kedua mempelai berganti pakaian adat yang akan dipakai
untuk
sungkeman serta bersanding di pelaminan.
Makobar Dan Mangan Pargogo
Acara
Makobar merupakan acara khusus untuk kedua mempelai, khususnya
mempelai
perempuan. Acara ini berisi pemberian nasihat dan petuah dari kedua
orangtua agar sang anak kelak dapat mengambil hari mertuanya. makobar
kerap
dilakukan hingga beberapa jam. Para tamu yang hadir belum
diperkenankan malan
sebelum pengantin perempuan keluar kamar.
Usai
Makobar, acara dilanjutkan dengan Mangan pargogo, yaitu acara kedua
mempelai makan nasi putih dan daging kambing. Acara mangan POargogo
dimaksudkan supaya kedua mempelai tidak merasa lapar ketika berangkat
kerumah mempelai laki-laki.
Mangolat Boru
Usai
akad nikah, orangtua mempelai perempuan menyerahkan anak gadisnya
kepada suaminya di pintu rumah. saat rombongan mempelai laki-laki
berangkat
membawa menantu ke rumah mereka, rombongan sepupu pengantin
perempuan menghadang rombongan.
hal ini dimaksudkan bahwa mempelai laki-laki tidak bisa begitu saja membawa
istrinya yang mereka jaga selama ini.
Agar
mempelai laki-laki dapat membawa sang istri ke rumahnya, ia harus
'menyogok'
mereka dengan sejumlah uang. Jika pihak sepupu merasa kurang
dengan uang, 'sogokan',
mereka belum mempersilahkan rombongan meneruskan
perjalanan.
Namun acara ini hanya sebagai simbol belaka. Adakalanya
dibuat semeriah
mungkin sehingga menjadi ajang canda tawa bagi pengantin
dan keluarga.
Usai kesepakatan dibuat, pihak sepupu memberikan
air kelapa yang langsung
diminum dari buahnya kepada pasangan pengantin,
agar kedua mempelai
tidak kehausan selama perjalanan.
Gondang
Sesampainya
pengantin di rumah keluarga mempelai laki-laki, mereka disambut
dengan
gondang yaitu berupa tarian tor-tor khas Tapanuli Selatan. Sambutan
dilakukan
saat keduanya tiba di halaman rumah. Sebelum masuk, kedua
pengantin diharuskan
menginjak batang pisang atau tumbuhan yang bersifat
dingin. Lalu keduanya
diberikan air toli-toli untuk melepas dahaga
setelah menempuh perjalanan.

Indahan Pasairobu
Setelah
kedua mempelai diberi minum air si toli-toli, urusan mempelai perempuan
datang membawa Indahan Pasairobu yakni nasi dari orang tua memepelai
perempuan.
Jumlah utusan biasanya sebanyak 6 orang dan semuanya
perempuan.
Sebelum Indahan Pasairobu diterima, orangtua mempelai
laki-laki akan
bertanya apakah benar nasi tersebut dari besannya. Jika
benar,
utusan akan pulang dengan dibekali uang dan kain sarung untuk
manabosi ngiro yaitu uang untuk membeli air agar tidak kehausan.
Setelah
utusan pulang, acara dilanjutkan dengan makan nasi pangupa,
yakni kedua
pengantin makan nasi putih dan daging kambing atau kerbau.
Sebelum
rangkaian acara selesai, diadakan acara Makobar berisi nasihat
dari
orangtua dan sesepuh kepada kedua mempelai agar hidup
berumahtangga
dengan baik.(Titik/PUSPA) |