Kamis, 10 Oktober 2013

Uniknya Pernikahan Adat Tapanuli Selatan Pabuat Boru




PDF Print E-mail



SECARA geografis, Tapanuli selatan merupakan bagian dari provinsi Sumatera Utara.
Letak yang berbatasan dengan Sumatera Barat menjadikan Tapanuli Selatan
sedikit berbeda dengan wilayah lain di Sumatera Utara. Jika sebagian besar
masyarakat Sumatera Utara beragama Nasrani, lain halnya dengan masyarakat
Tapanuli Selatan yang sebagian besar beragama Islam. Sehingga, tata cara adat budaya
mereka banyak dipengaruhi kebudayaan dan nilai-nilai Islam.

Masyarakat Tapanuli Selatan menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap perilaku
kehidupan, termasuk prosesi pernikahan yang diusung dalam rangkaian upacara
adat yang meriah. Perlengkapan pesta pernikahan hingga tata cara dalam
setiap prosesi yang berlaku mencerminkan bahwa masyarakat Tapanuli
Selatan amat menjunjung tinggi kaidah dan nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam.


Mangaririt Boru Dan Manulak Sere
Melihat dan memilih pasangan hidup adalah hak setiap manusia.
Apapun cara dan langkah yang ditempuh guna mendapatkan jodoh sesuai pilihan hati.
Setiap daerah dan suku bangsa mempunyai cara sendiri dalam mencari
belahan jiwanya. Mangaririt Boru merupakan cara masyarakat
Tapanuli Selatan dalam menyelidiki anak perawan guna dijadikan pasangan hidup.

Cara ini penting supaya di kemudian hari tidak ada kekeliruan terhadap
gadis yang akan dipinang. Jika si gadis belum ada yang melamar,
selanjutnya diadakan musyawarah bersama keluarga mengenai waktu
yang tepat untuk malamar. Dalam rapat keluarga ditentukan pula jumlah
mas kawin yang akan dibawa, serta barang hantaran apa saja yang akan
diserahkan saat lamaran.

Menurut adat, mas kawin yang wajib tersedia adalah emas meskipun jumlahnya tidak seberapa.
Hal ini sesuai dengan anjuran dalam agama Islam bahwa perempuan yang
akan dinikahi wajib diberikan mas kawin berupa pemberian yang manis.
Artinya, memberikan barang yang dapat dinikmati si mempelai perempuan.

Mangalehen Mangan

Masyarakat Tapanuli mengenal acara suapan yang dilakukan orangtua
kepada putrinya yang akan melepas lajang. Namun acara ini tertutup bagi mempelai
laki-laki alias hanya dilakukan keluarga perempuan. Acara Mangalehen Mangan
dilakukan dengan cara memberikan makan (menyuapi) calon mempelai perempuan
sebagai simbol pengasuhan terakhir orangtua kepada putrinya.



Mangalap Boru
Acara ini dimaksudkan untuk menyunting mempelai perempuan sekaligus
pelaksanaan ijab kabul. Mangalap Boru diawali dengan kedatangan rombongan
calon pengantin laki-laki sebanyak 10-15 orang ke rumah keluarga perempuan,
dipimpin seorang ketua adat. Rombongan datang membawa barang
hantaran berikut mas kawin.

Sampai di pintu gerbang rumah mempelai perempuan, rombongan mempelai
laki-laki mengucapkan salam, dilanjutkan dialog singkat mengenai maksud
dan kedatangan mereka. Jika calon pengantin laki-laki diterima dan
dipersilahkan masuk, acara dilanjutkan dengan ijab kabul sehingga kedua
mempelai sah menjadi suami istri.

Saat akad nikah berlangsung, pasangan pengantin biasanya belum memakai pakaian adat.
Usai akad, barulah kedua mempelai berganti pakaian adat yang akan dipakai
untuk sungkeman serta bersanding di pelaminan.



Makobar Dan Mangan Pargogo
Acara Makobar merupakan acara khusus untuk kedua mempelai, khususnya
mempelai perempuan. Acara ini berisi pemberian nasihat dan petuah dari kedua
orangtua agar sang anak kelak dapat mengambil hari mertuanya. makobar kerap
dilakukan hingga beberapa jam. Para tamu yang hadir belum diperkenankan malan
sebelum pengantin perempuan keluar kamar.

Usai Makobar, acara dilanjutkan dengan Mangan pargogo, yaitu acara kedua
mempelai makan nasi putih dan daging kambing. Acara mangan POargogo
dimaksudkan supaya kedua mempelai tidak merasa lapar ketika berangkat
kerumah mempelai laki-laki.


Mangolat Boru
Usai akad nikah, orangtua mempelai perempuan menyerahkan anak gadisnya
kepada suaminya di pintu rumah. saat rombongan mempelai laki-laki berangkat
membawa menantu ke rumah mereka, rombongan sepupu pengantin
perempuan menghadang rombongan.
hal ini dimaksudkan bahwa mempelai laki-laki tidak bisa begitu saja membawa
istrinya yang mereka jaga selama ini.

Agar mempelai laki-laki dapat membawa sang istri ke rumahnya, ia harus 'menyogok'
mereka dengan sejumlah uang. Jika pihak sepupu merasa kurang dengan uang, 'sogokan',
mereka belum mempersilahkan rombongan meneruskan perjalanan.
Namun acara ini hanya sebagai simbol belaka. Adakalanya dibuat semeriah
mungkin sehingga menjadi ajang canda tawa bagi pengantin dan keluarga.

Usai kesepakatan dibuat, pihak sepupu memberikan air kelapa yang langsung
diminum dari buahnya kepada pasangan pengantin, agar kedua mempelai
tidak kehausan selama perjalanan.

Gondang
Sesampainya pengantin di rumah keluarga mempelai laki-laki, mereka disambut
dengan gondang yaitu berupa tarian tor-tor khas Tapanuli Selatan. Sambutan dilakukan
saat keduanya tiba di halaman rumah. Sebelum masuk, kedua pengantin diharuskan
 menginjak batang pisang atau tumbuhan yang bersifat dingin. Lalu keduanya
 diberikan air toli-toli untuk melepas dahaga setelah menempuh perjalanan.



Indahan Pasairobu
Setelah kedua mempelai diberi minum air si toli-toli, urusan mempelai perempuan
datang membawa Indahan Pasairobu yakni nasi dari orang tua memepelai perempuan.
Jumlah utusan biasanya sebanyak 6 orang dan semuanya perempuan.
Sebelum Indahan Pasairobu diterima, orangtua mempelai laki-laki akan
bertanya apakah benar nasi tersebut dari besannya. Jika benar,
utusan akan pulang dengan dibekali uang dan kain sarung untuk
manabosi ngiro yaitu uang untuk membeli air agar tidak kehausan.

Setelah utusan pulang, acara dilanjutkan dengan makan nasi pangupa,
yakni kedua pengantin makan nasi putih dan daging kambing atau kerbau.
 Sebelum rangkaian acara selesai, diadakan acara Makobar berisi nasihat
dari orangtua dan sesepuh kepada kedua mempelai agar hidup
 berumahtangga dengan baik.(Titik/PUSPA)